Pernah nggak sih, kita bertanya-tanya, kenapa makin banyak dosen atau akademisi yang justru lebih sering terlihat aktif dan “ngeksis” di luar lingkungan kampus? Entah itu jadi narasumber di TV, konsultan perusahaan besar, penulis buku best-seller, atau bahkan influencer di media sosial. Seolah-olah, panggung intelektual yang mereka cari justru ada di luar gerbang kampus. Padahal, kita semua tahu, kampus seharusnya menjadi sarang bagi para pemikir, inovator, dan pusat diskusi intelektual.
Fenomena ini bukan sekadar tren biasa, lho. Ada banyak lapisan kompleks di baliknya yang mungkin perlu kita bedah bersama. Kira-kira, apa ya yang menyebabkan para intelek ini merasa perlu mencari eksistensi diri di luar ‘rumah’ mereka sendiri?
Kampus Bukan Lagi Pusat Intelek Murni?
Dulu, kampus itu identik dengan menara gading. Tempat di mana ide-ide besar lahir, penelitian mendalam dilakukan, dan diskusi-diskusi filosofis terjadi tanpa batas. Lingkungaya kondusif untuk berpikir bebas, berinovasi, dan saling menginspirasi. Dosen adalah nahkoda yang memimpin kapal intelektual ini, membawa mahasiswa menjelajahi samudra ilmu pengetahuan.
Namun, seiring berjalaya waktu, mungkin ada pergeseran. Kampus kini tak hanya dituntut sebagai pusat ilmu, tapi juga “pabrik” lulusan yang siap kerja, pusat inovasi yang menghasilkan paten, hingga lembaga yang berorientasi pada akreditasi dan rangking. Tuntutan yang banyak ini, kadang tanpa sadar, bisa menggeser fokus utama kampus sebagai ruang bebas berpikir.
Beban Administratif vs. Ruang Berpikir Bebas
Salah satu keluhan klasik dari para dosen adalah beban administratif yang kian menumpuk. Dari mulai mengisi laporan BKD (Beban Kerja Dosen), mengurus akreditasi prodi, mengawasi ujian, sampai urusan remeh-temeh birokrasi laiya. Semua ini memakan waktu dan energi yang tidak sedikit. Bayangkan, waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk riset mendalam, menulis jurnal, atau berdiskusi dengan mahasiswa, justru habis di depan tumpukan formulir atau layar komputer untuk mengisi portal administrasi.
Ketika ruang untuk berpikir bebas dan berkreasi menjadi sempit karena terhimpit tumpukan kertas dan target administratif, wajar saja jika para dosen mulai mencari ‘pelarian’. Mereka butuh tempat di mana ide-ide mereka bisa mengalir bebas tanpa sekat birokrasi yang rumit.
Mencari Panggung di Luar Gerbang Kampus
Nah, ini dia poin utamanya. Kenapa sih para dosen merasa lebih “hidup” atau “terlihat” di luar kampus? Ada beberapa alasan yang bisa jadi pemicunya:
- Pengakuan dan Dampak Nyata: Di luar kampus, kontribusi seorang dosen bisa langsung terlihat dan dirasakan dampaknya. Misalnya, memberikan solusi untuk masalah industri, mengedukasi masyarakat melalui media, atau bahkan memengaruhi kebijakan publik. Pengakuan semacam ini seringkali lebih instan dan memuaskan daripada publikasi jurnal yang hanya dibaca segelintir akademisi.
- Kebebasan Berekspresi: Di forum-forum eksternal, para dosen seringkali merasa lebih bebas untuk menyuarakan opini, kritik, dan gagasan tanpa khawatir terjebak dalam norma atau birokrasi internal kampus. Mereka bisa menjadi diri mereka sendiri sebagai seorang intelektual publik.
- Jaringan dan Kolaborasi: Terlibat di luar kampus membuka pintu kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari praktisi, pemerintah, hingga lembaga internasional. Ini bisa memperkaya pengalaman dan memberikan perspektif baru yang mungkin sulit didapatkan hanya di dalam kampus.
- Kompensasi yang Lebih Baik: Jujur saja, tidak bisa dimungkiri bahwa tawaran honor sebagai narasumber, konsultan, atau penulis seringkali jauh lebih menarik daripada pendapatan rutin sebagai dosen. Ini menjadi motivasi tambahan, apalagi jika gaji pokok di kampus dirasa belum sepadan dengan beban kerja.
- Relevansi dengan Dunia Nyata: Banyak dosen yang merasa gagasaya lebih relevan dan aplikatif ketika berinteraksi langsung dengan dunia nyata di luar kampus. Ini membantu mereka menjaga “sense of reality” dan memastikan ilmu yang mereka ajarkan tidak hanya teori belaka.
Dampak dan Tantangan bagi Pendidikan Tinggi
Fenomena ini tentu punya dua sisi mata uang. Di satu sisi, kehadiran dosen di luar kampus bisa jadi duta yang baik, menunjukkan bahwa akademisi itu relevan dan berkontribusi. Mereka bisa membawa pulang pengalaman dan wawasan baru ke kelas, memperkaya materi perkuliahan.
Tapi di sisi lain, jika terlalu banyak dosen yang lebih fokus di luar, bukan tidak mungkin semangat intelektual di dalam kampus justru meredup. Riset-riset fundamental jadi kurang perhatian, diskusi-diskusi mendalam antar dosen jadi jarang, dan bahkan kualitas bimbingan mahasiswa bisa terganggu. Kampus berisiko kehilangan ruhnya sebagai pusat pemikiran orisinal dan inovatif.
Ini menjadi tantangan besar bagi institusi pendidikan tinggi. Bagaimana caranya menciptakan lingkungan kampus yang kembali menarik bagi para dosen? Lingkungan yang bukan hanya soal target dan administrasi, tapi juga tentang kebebasan berpikir, dukungan riset yang kuat, dan apresiasi yang layak terhadap karya intelektual.
Kesimpulan
Jadi, fenomena dosen yang “ngeksis” di luar kampus ini bukan sekadar pilihan personal, tapi juga cerminan dari kondisi dunia akademik kita. Mungkin sudah saatnya kita semua—baik dosen, manajemen kampus, maupun pemangku kebijakan—untuk merefleksikan kembali. Apakah kampus kita sudah cukup “memelihara” dan “menghargai” para intelektualnya?
Mari berharap, kampus bisa kembali menjadi rumah yang nyaman dan inspiratif bagi para pemikir, sehingga semangat intelektual bisa membara dari dalam, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat di luar sana. Karena bagaimanapun, kampus adalah jantung peradaban, dan dosen adalah detaknya.
